JAWABAN UJIAN AKHIR TRIWULAN

1. Apa yang membedakan pengembangan software dengan pengembangan system informasi? Jelaskan!

Pengembangan software (rekayasa perangkat lunak) merupakan bagian dari rekayasa sistem informasi. Dalam rekayasa sistem informasi, diawali dengan pengembangan sistem informasi (PSI) kemudian dilanjutkan dengan analisa, perancangan dan implementasi sistem informasi. Sementara rekayasa perangkat lunak dimulai dari analisa kemudian perancangan dan diakhiri implementasi. Jadi rekayasa perangkat lunak merupakan bagian dari rekayasa sistem informasi. Perbedaan keduanya terdapat pada keberadaan perancangan sistem informasi yang terdapat pada rekayasa sistem informasi. Pada rekayasa perangkat lunak tidak terdapat PSI yang dapat mengakibatkan adanya mismatch antara developer dan apa yang diinginkan oleh user. Hal ini yang membedakan antara pengembangan software dan pengembangan sistem informasi.

2. Seringkali terjadi suatu kesalahan besar yang berakibat fatal pada organisasi, ketika mereka melakukan pengalihan/konversi dari suatu system lama ke system yang baru. Jelaskan mengapa fenomena ini terjadi! Jelaskan pula bagaimana cara dalam pengkonversian system, dengan berbagai asumsinnya agar kesalahan tersebut tidak terjadi. Jelaskan!

Konversi sistem merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan sistem baru dalam rangka menggantikan sistem yang lama atau proses pengubahan dari sistem lama ke sistem baru. Beberapa permasalahan yang umum terjadi saat melakukan pengalihan/konversi dari satu system lama ke system yang baru, disebabkan karena :

Pada Infrastruktur SI

–       Tidak melihat adanya kebutuhan baru (baik hardware maupun software) didalam sistem baru, seperti adanya kebutuhan hardware / software yang sebelumnya tidak ada, kebutuhan perubahan kapasitas hardware (hardisk, memori, processor, dll), dll.

–       Tidak memeriksa kompabilitas sistem yang terpasang seperti versi operating system sudah tidak mendukung, protocol yang digunakan tidak match dengan sistem baru (berupa prosedur untuk hubungan antar subsistem dan message format yang digunakan), beberapa pheriperal (system printer, validasi printer, passbook printer, dll) tidak dapat digunakan (tidak compatible didalam interface fisik ataupun logic), dll.

–       Tidak memperhatikan kebutuhan cabling system yang baru seperti sistem lama menggunakan RS232 cukup dengan 4 kawat, menjadi 25 kawat,  dulunya dengan interface RS232 / V24 menjadi V35, dulunya dengan cable coaxial menjadi dengan UTP Category 5, dll.

–       Tidak memperhatikan kebutuhan sistem sumber daya listrik seperti power plug dengan british type (kaki tiga) dulunya kaki 2, membutuhkan power plug dengan koneksi legrand, dulunya sistem membutuhkan single phase untuk yang baru membutuhkan 3 pahse, kapasitas daya yang terpasang tidak mencukupi, dll.

Pada Data

–          Tidak melaksanakan analisa antara data yang lama dan yang baru (data maping) sehingga didalam konversi data banyak terjadi kesalahan atau kegagalan (tidak dapat dikonversi).

–          Tidak melaksanakan pembersihan data lama (data clean up) dari data-data yang masih salah, tidak konsisten, tidak perlu ada, dll.

–          Tidak membuat tool-tool untuk konversi data sehingga hampir seluruhnya dilaksanakan dengan cara manual, akibatnya prosesnya terlalu lama sehingga oleh user proses konversi ditolak (mengganggu operasi sehari-hari, biasanya ada batas  waktu sistem boleh down).

Pada People

–          Tidak memeriksa adanya kebutuhan SDM dengan kwalifikasi tertentu akibat adanya sistem yang baru sehingga didalam operasi sehari-hari masih sangat tergantung pada fihak luar.

–          Tidak melaksanakan training dengan baik bagi para user, sehingga didalam mengoperasikan sistem baru para user mengalami kesulitan.

–          Kurang didalam mensosialisasikan sistem baru, sehingga user enggan (terdapat reluktansi) didalam menggunakan sistem baru (biasanya orang perlu mempunyai alasan didalam benaknya untuk berpindah ke suatu sistem yang lain dari yang sudah ada).

–          Terlalu banyaknya kebiasaan yang sudah terlanjur lama dilaksanakan tiba-tiba harus dirubah, hal ini biasanya menimbulkan keengganan bagi para user.

–          Kurangnya komitmen dari manajemen, sebab walaupun sudah dilaksanakan sosialisasi dengan baik biasanya masih ada beberapa orang yang menolak kehadiran sistem baru, untuk itu didalam hal ini perlu adanya ketegasan dari fihak manajemen.

Pada Prosedur

–          Tidak memperhatikan adanya sistem baru menyebabkan terjadinya perubahan prosedur yang memerlukan adanya pos jabatan baru. Sementara didalam pelaksanaan konversi tidak dilaksanakan perubahan organisasi kerja.

–          Kurang teliti didalam mempelajari prosedur baru sehingga sulit dilaksanakan dilapangan.

–          Ada prosedur baku yang tidak dapat dihilangkan (baik karena alasan keamanan, adanya regulasi dari fihak eksaternal, dll), yang tidak di support oleh sistem baru.

Pada Features

–          Terlalu banyaknya perbedaan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh sistem maupun aplikasi baru dibandingkan sistem dan aplikasi lama. Hal ini khususnya dari titk pandang user apabila mereka sudah merasakan manfaat yang besar di fasilitas lama akan enggan menggunakan sistem baru atau mengangggap bahwa sistem baru kurang baik.

–          Kadang-kadang belum tentu semua fasilitas di sistem baru akan lebih baik dari sistem lama, hal ini biasanya jadi titik lemah dari sistem tersebut sehingga sering kali hal ini dijadikan alasan untuk menolak adanya sistem baru tersebut.

–          Tidak mampunya para pengembang sistem baru untuk membatasi ekspektasi dari user, sehingga permintaan-permintaan yang timbul tidak dapat diakomodasi.

Empat bentuk utama dari konversi system :

1.  Konversi langsung

Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru. Cara ini merupakan yang paling berisiko, tetapi murah. Konversi langsung adalah pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama, yang kadang-kadang disebut pendekatan cold turkey. Apabila konversi telah dilakukan, maka tak ada cara untuk balik ke sistem lama. Apabila konversi langsung akan digunakan, aktivitas-aktivitas pengujian dan pelatihan yang dibahas sebelumnya akan mengambil peran yang sangat penting

2.   Konversi paralel

Pada konversi ini, sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan. Cara seperti ini merupakan pendekatan yang paling aman, tetapi merupakan cara yang paling mahal, karena pemakai harus menjalankan dua sistem sekaligus.

Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama  dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa periode waktu. Ia kebalikan dari konversi langsung. Dalam mode konversi paralel, output dari masing-masing sistem tersebut dibandingkan, dan perbedaannya direkonsiliasi.

Ketika proses konversi suatu sistem baru melibatkan operasi paralel, maka orang-orang pengembangan sistem harus merencanakan untuk melakukan peninjauan berkala dengan personel operasi dan pemakai untuk mengetahui kinerja sistem tersebut. Mereka harus menentukan tanggal atau waktu penerimaan dalam tempo yang wajar dan memutus sistem lama.

3.   Konversi bertahap

Konversi dilakukan dengan menggantikan suatu bagian dari sistem lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Dengan pendekatan seperti ini, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru. Cara seperti ini lebih aman daripada konversi langsung.

Dengan metode Konversi Phase-in, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, yang secara sedikit demi sedikit mengganti yang lama. Ia menghindarkan dari risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasimilasi perubahan. Untuk menggunakan metode phase-in, sistem harus disegmentasi.

4.  Konversi pilot

Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah.

Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasilah yang mencoba mengembangkan sistem baru. Kalau metode phase-in mensegmentasi sistem, sedangkan metode pilot mensegmentasi organisasi.

3. Apa urgensi maintainability dari suatu software? Jelaskan!

Maintainability software didefinisikan secara kualitatif merupakan kemudahan suatu software untuk di mengerti, diperbaiki, diadaptasi dan/atau dikembangkan. Maintainability dari suatu software dapat dipengaruhi oleh banyak factor. Kecerobohan/ kekurang hati-hatian dalam desain, coding, dang testing akan memberikan dampak negative yang jelas untuk kemampuan pemeliharaan software yang dihasilkan. Dibawah ini terdapat beberapa factor yang berhubungan dengan lingkungan pengembangan software, diantaranya :

  • Ketersediaan staff software yang berpotensi/pilihan
  • Struktur system yang mudah dipahami
  • Kemudahan penanganan system
  • Menggunakan bahasa pemograman standar
  • Menggunakan system operasi standar
  • Struktur dokumentasi yang terstandarisasi
  • Ketersediaan kasus uji
  • Tersedianya fasilitas debugging
  • Ketersediaan computer yang tepat untuk melakukan pemeliharaan

Sebagai tambahan terhadap factor-faktor diatas, harus ditambahkan ketersediaan orang atau kelompok yang mengembangkan proyek . Faktor-faktor diatas merefleksikan karakteristik dari sumber daya hardware dan software yang digunakan selama pengembangan. Faktor-faktor lainnya mengindikasikan kebutuhan akan standarisasi metode, sumberdaya dan pendekatan. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi maintainability adalah rencana untuk maintainability. Jika software dilihat sebagai elemen sistem yang akan diubah sewaktu-waktu, maka software yang berkemampuan untuk dipelihara akan dibuat.

4. Apa yang saudara ketahui tentang ERP (enterpirise resource planning) dan bagaimana implementasi system informasi yang berbasiskan ERP. Jelaskan!

Enterpirise Resource Planning (ERP) merupakan software yang mengintegrasikan semua departemen dan fungsi suatu perusahaan ke dalam satu system komputer yang dapat melayani semua kebutuhan perusahaan, baik dari departemen penjualan, HRD, produksi atau keuangan. Sasaran utama ERP adalah mengintegrasikan semua departemen dan fungsi di sebuah perusahaan ke dalam satu system computer tunggal yang dapat melayani kebutuhan perusahaan keseluruhan. Sebagai contoh, entri order yang ditingkatkan mengizinkan adanya akses segera kepada inventori, data produk, sejarah kredit pelanggan, dan informasi order terdahulu. Hal ini meningkatkan produktivitas dan kepuasan pelanggan.

Sistem ERP mengintegrasikan aktivitas bisnis organisasi dengan menyimpan data tentang aktivitas itu di dalam sebuah database terpusat. Sistem ERP didesain untuk meningkatkan daya saing dengan mengupgrade kemampuan organisasi untuk menghasilkan informasi tepat waktu dan akurat di keseluruhan perusahaan dan rantai persediaannya. Sukses implementasi ERP dapat mempersingkat siklus produksi, meningkatkan akurasi perkiraan permintaan, meningkatkan layanan pelanggan, dan memangkas biaya operasi berlebihan, mungkin memimpin kepada pengurangan biaya teknologi informasi keseluruhan dengan penghapusan informasi redundan dan system computer.

Implementasi sistem ERP tergantung pada ukuran bisnis, ruang lingkup dari perubahan dan peran serta pelanggan. Migrasi data adalah salah satu aktifitas terpenting dalam menentukan kesuksesan dari implementasi ERP. Langkah strategi migrasi data yang dapat menentukan kesuksesan implementasi ERP :

  • Mengidentifikasi data yang akan di migrasi
  • Menentukan waktu dari migrasi data
  • Membuat template data
  • Menentukan alat untuk migrasi data
  • Memutuskan persiapan yang berkaitan dengan migrasi
  • Menentukan pengarsipan data

Beberapa hal yang menyebabkan kegagalan implementasi system ERP :

  • Lemahnya kepemimpinan manajemen puncak
  • Mengotomatisasi proses redundan yang sudah ada atau proses yang tidak bernilai tambah di dalam system baru
  • Harapan tidak realistis. Implementasi ERP mahal, memerlukan banyak waktu untuk implementasi, dan sering menghabiskan banyak biaya selagi diselaraskan
  • Lemahnya manajemen proyek
  • Pengguna tidak cukup pelatihan dan pendidikan
  • Berusaha menjaga status quo
  • Ketidaksesuaian antara model bisnis ERP dan proses bisnis nyata
  • Data tidak akurat. Sebagaimana pada semua system perusahaan, data tidak akurat dapat mendorong kepada bencana
  • Implementasi ERP dipandang sebagai suatu proyek IT. Ia adalah kumpulan proses bisnis, bukan proyek. Ia terus-menerus berkembang/meningkat mengikuti perubahan lingkungan organisasi dan proses-proses bisnis
  • Berbagai kesulitan teknis yang signifikan

Beberapa hal yang diperlukan untuk menerapkan system ERP dengan sukses :

  • Komitmen organisasional. Ini benar untuk semua system informasi perusahaan skala besar. ERP mempengaruhi semua proses bisnis
  • Komunikasi yang jelas mengenai tujuan-tujuan strategis
  • Memandang ERP sebagai spekulasi skala perusahaan
  • Memilih system ERP yang kompatibel
  • Memastikan akurasi data
  • Memecahkan isu-isu multisite (misal apakah menstandarisasi ke lintas perusahaan atau tidak; apakah menerapkan semua lokasi secara serempak atau secara bertahap)

Contoh perusahaan yang sukses menginstalasi ERP : General Instrument, pembuat peralatan telekomunikasi, dan vendor perangkat lunak SCM, melekatkan komponen data ke dalam piranti manajemen produk dari Metaphase. Dari sana data masuk system ERP dari Oracle. Sebelumnya data produk dimasukan secara manual ke dalam masing-masing system, hasilnya adalah biaya tinggi dan banyak kesalahan. Perusahaan juga menggunakan piranti konfigurasi produk yang membantu tenaga penjualan dan departemen pemanufakturan untuk memastikan bahwa konfigurasi produk tertentu mungkin untuk dilakukan sebelum order ditempatkan pada ERP. Lebih dari 3000 pemasok komponen punya kases langsung ke data produk pada Web dengan menggunakan teknologi Metaphase.

Posted in Lain-Lain | Comments Off on JAWABAN UJIAN AKHIR TRIWULAN

OUTSOURCING IT DI PERUSAHAAN

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peningkatan kebutuhan IT telah merubah konsep tradisional menjadi konsep yang lebih modern. Konsep tradisional menyatakan, semua aktivitas perusahaan akan dikerjakan secara internal, sedangkan konsep modern menyatakan akan semakin sedikit operasional kerja yang dilakukan secara internal.

Konsep modern tersebut menggambarkan bahwa fungsi bisnis dalam perusahaan yang memberikan keunggulan bersaing saja yang harus dikerjakan secara internal, namun fungsi bisnis lainnya dalam perusahaan dapat dlakukan secara outsourcing. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan perusahaan secara outsourcing diantaranya adalah aktivitas bisnis yang berhubungan dengan sistem informasi manajemen.

IT outsourcing adalah penyediaan tenaga ahli yang profesional dibidang Tehnologi Informasi untuk mendukung dan memberikan solusi guna meningkatkan kinerja Perusahaan. Sering kali suatu perusahaan mengalami kesulitan untuk menyediakan tenaga IT yang berkompeten dalam mengatasi kendala-kendala IT maupun operasional kantor sehari-hari.

Kehadiran perusahaan outsourcing atau rekanan dalam pengadaan jasa di bidang Teknologi Informasi (TI) semakin hari semakin marak dan dapat dianggap sebagai alternatif yang efisien bagi banyak perusahaan. Dengan adanya perusahaan outsourcing di bidang TI, maka banyak perusahaan yang merasa dapat menghemat sumber daya baik sumber daya manusia, perangkat keras maupun biaya, sehingga perusahaan tersebut dapat lebih berfokus pada bisnis utamanya dan tidak terlalu menghabiskan energi untuk memikirkan aspek pengelolaan teknologi informasi. Manfaat yang diperoleh dari outsourcing meliputi penghematan biaya, meningkatnya fleksibilitas, kualitas layanan yang lebih baik, dan tersedia akses terhadap teknologi baru dengan resiko yang tidak terlalu besar bagi perusahaan.

Pengelolaan outsourcing tidaklah semudah melempar tanggung jawab ke pihak ketiga, sehingga tidak semua perusahaan berhasil dengan baik melakukan outsourcing. Beberapa perusahaan justru harus mengeluarkan sumber daya ekstra untuk mengatasi gagalnya proyek outsourcing karena berbagai sebab, misalnya karena ketidakmampuan perusahaan penyedia jasa outsourcing memenuhi tanggung jawab kualitas layanan yang sudah dijanjikan, atau biaya operasionalnya jauh lebih besar dari perkiraan semula.

B. Tujuan

Tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengkaji mengapa suatu perusahaan melakukan outsourcing dan melihat keuntungan dan kerugian yang di dapat perusahaan jikan melakukan outsourcing IT.

PEMBAHASAN

A.  Alasan Suatu Organisasi Memilih Outsourcing

Alasan mengapa suatu perusahaan mengambil langkah outsourcing adalah dikarenakan agar peruhsahaan tersebut dapat bertahan dalam memasuki pasar international dan mendapatkan keuntungan. Pengambilan langkah outsourcing merupakan suatu penerapan kebijakan perusahaan. Juga dikatakan bahwa ketika perusahaan mengambil langkah melakukan IT outsourcing, perusahaan tersebut akan di hadapkan kepada beberapa manfaat dan resiko, yang dimana ada salah satu resiko tersebut jika tidak di tangani dengan baik akan menimbulkan masalah yang besar bagi perusahaan.

pertama, cost relative reduction atau pengurangan ongkos dari total bisnis. Outsourcing akan membuat pendapatan naik. Misalnya, semula pendapatan cuma 500, dengan outsourcing menjadi 700, dengan biaya TI yang naik dari 50 menjadi 60. Jadi, pengaruhnya harus dilihat dari total pendapatan. Dengan kenaikan itu, rasionya makin mengecil. Dengan demikian, revenue juga akan naik. Dari sisi biaya, outsourcing memungkinkan mengatur spending TI lebih baik.

Alasan kedua, adanya dorongan agar teknologi diubah. Akibatnya, perusahaan kekurangan orang yang bisa mengaplikasikan teknologi baru atau ada large scale business yang baru yang memerlukan penggunaan TI. Outsourcing juga membuka peluang akses terhadap new skill dan tidak harus me-retain orang. Memelihara karyawan itu repot. Lagi pula, jika perusahaan harus investasi TI sendiri, memerlukan biaya yang besar dan waktunya tidak bisa cepat. Pendek kata, dengan outsourcing pengusaha bisa menggunakan TI sesuai dengan strategi bisnis perusahaan.

Alasan ketiga, quality of service pada end user harus terus membaik. Padahal TI yang ada sudah tidak cukup lagi karena kualitasnya terbatas. Dengan outsourcing diharapkan kualitas layanan bisa menjadi lebih baik.

Alasan keempat, karena merger dan akuisisi yang terus-menerus terjadi. Ini menyebabkan outsourcing menjadi pilihan yang bijaksana karena tidak terlalu berisiko. Alasan kelima, memungkinkan perubahan business process dalam organisasi. Dan keenam, memungkinkan organisasi bisa fokus pada core business.

B.   Proses Melakukan Outsourcing

Membuat keputusan outsourcing adalah bukan sesuatu hal yang mudah, keputusan ini berpengaruh terhadap reputasi dan pencapaian dari suatu organisasi dalam waktu yang sangat panjang. Seperti proses pengambilan keputusan penting, tahap pemilihan outsourcing melalui siklus yang dijelaskan seperti di bawah ini :

Objectives – Organisasi mendefinisikan sasaran dari bisnis mereka dan apa yang terbaik untuk mereka melalui penggunaan teknologi informasi yang paling sesuai.

Feasibility – Organisasi mempelajari alternative pilihan outsourcing yang ada, dengan cara menjawab beberapa pertayaan seperti “Apa yang kita harus cemaskan?” dan ” Apa yang terjadi jika..?”. Organisasi harus mendiskusikan hal-hal seperti :

–       Pentingnya aktivitas IT atau fungsi bisnis kepada organisasi secara keseluruhan.

–       Dampak yang mungkin terjadi pada reputasi organisasi terhadap pelanggan saat melakukan outsourcing

–       Kemampuan outsourcing sesuai dengan biaya yang dikeluarkan dan pengerjaannya tepat waktu

Requirements – pada langkah ini yaitu organisasi mengidentifikasi kebutuhannya untuk system informasinya. Organisasi tidak hanya menggambarkan tujuan-tujuannya tetapi mengidentifikasi kebutuhan input dan ouput yang ingin didapatkan.

Selection of a service provider – pada langkah ini, organisasi mengevaluasi kredibalitas dan kemampuan dari penyedia outsourcing, sehingga dapat tercipta hubungan yang strategis dalam jangka waktu yang lama.

Transition – proses ini adalah proses penyesuaian system informasi dalam suatu organisasi sampai pada keadaan yang stabil. Untuk melakukan migrasi fungsi, peralatan dan actor kepada outsourcing perlu membuat perencanaan yang sangat hati-hati dan detail.

Steady state – proses ini adalah yang terpenting dimana sudah terjadi kestabilan system informasi dengan fungsi dari organisasi. Pada proses ini masih perlu pengontrolan.

Renewal/termination – setelah semua terlaksana, pada keputusan terakhir suatu organisasi dapat memilih mau diteruskan atau tidak perjanjian dengan outsourcing yang telah ada. Banyak factor untuk memutuskan itu, diantaranya kepuasan terhadap jasa outsourcing, kemampuan untuk memelihara dan melihat rencana masa depan dari organisasi itu.

C.   Manfaat dari Melakukan Outsourcing

Teknologi yang maju. IT sourcing memberikan kemajuan teknologi kepada organisasi klien dan pengalaman personil. Suatu perusahaan memiliki kemajuan teknologi jika teknologi tersebut dapat membantu perusahaan dalam menyelesaikan misinya, dan teknologi tersebut tergantung kepada vendor sebagai penyedia IT outsourcing tersebut.

Cash Flow. Jasa yang disediakan oleh vendor relatif lebih murah dibanding jika perusahaan mengusahakannya sendiri. Outsourcing dapat membantu pengelolaan arus kas sebab perusahaan tidak perlu melakukan penanaman modal awal besar sebab vendor memiliki kebijakan free-for service basis. Perusahaan dapat di bebaskan dari pembelian aset IT melalui outsourcing. Perusahaan tidak akan dibebani lagi dengan biaya pembelian, pengembangan, pemeliharaandan pengelolaan aset-aset IT yang mahal.

Pemusatan Aktivitas Inti. Perusahaan dapat lebih berkonsentrasi pada kegiatan operasinya dan dapat mengendalikan jumlah tugas sehingga kegiatan operasi perusahaan dapat menjadi sempurna.

Kebutuhan akan personil IT. Penggunaan IT sourcing oleh suatu perusahaan menggambarkan kurangnya personil IT dalam satu perusahaan tersebut. Vendor memiliki resources yang lebih besar, maka alangkah baiknya jika perusahaan tersebut menggunakan IT outsourcing staff yang berasal dari vendor.

Fleksibilitas penggunaan Teknologi. Outsourcing dipertimbankan sebagai langkah management resiko yang lebih baik, sebab dengan begitu, segala resiko yang di hadapi dilimpahkan kepada vendor yang bertanggung jawab dalam memperbaharui teknologi.

D.   Resiko yang Dihadapi Jika Melakukan Outsourcing

Legal. Salah satu komponen penting dalam outsourcing adalah kontrak. Didalam kontrak dijelaskan mengenai layanan vendor kepada penyedia, diskusi financial, dan legal issue. Ini akan dijadikan blueprint sebagai bentuk persetujuan mereka. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pembuatan kontrak yaitu service level agreements, penalties for non-performance, contract length, flexibility, post-outsourcing, dan vendor standart contract. Dan ini merupakan resiko yang perlu di perhatikan dengan sebaik-baiknya, jika tidak maka IT outsourcing akan menjadi masalah bagi perusahaan.

Loss of flexibility. Jika menandatangani kontrak outsourcing yang berjangka lebih dari tiga tahun, maka dapat mengurangi fleksibilitas. Seandainya ada kebutuhan bisnis yang berubah, perkembangan teknologi yang menciptakan peluang baru dan adanya penurunan harga maka klien harus merundingkan kembali kontraknya.

Managerial Control Issue. Pengambilan keputusan hanyalah di kendalikan oleh sebagian kecil para eksekutif senior saja, sedangkan para departement IT yang lebih mengetahui kebutuhan IT perusahaan dikendalikan oleh atasan saja.

Financial. Ada biaya yang dikenal dengan hidden cost, yaitu biaya seperti biaya diluar jasa standar, biaya pencarian vendor (melibatkan aktivitas yang mahal seperti riset, wawancara, evaluasi dan kunjungan lokasi luar negri, dan pemilihan akhir suatu penjualan), biaya transisi (transisi meliputi penyusunan, penarikan kembali dan penampungan yang dilakukan oleh vendor), dan biaya post outsourcing.

E.   Selfsourcing dan Insourcing

Dalam mengembangkan teknologi informasi pada suatu organisasi selain menggunakan outsourcing ada beberapa cara lain, yaitu selfsourcing dan insourcing. Selfsourcing adalah pembentukan dan pembangunan sistem IT dari staff yang memiliki kemampuan IT yang minim dari satu divisi yang mendapatkan sedikit kontribusi dari spesialis IT. Dengan artian bahwa pembentukan sistem IT di satu divisi, dibentuk oleh staff yang ada di divisi tersebut, tidak adanya atau hanya sedikit kontribusi dari divisi IT tersebut. Lebih kepada orang-orang atau staff-staff yang hanya ada di divisi tersebut. Contohnya pembentukan sistem IT di divisi Finance, dibuat oleh staff-staff yang ada di divisi Finance, tidak adanya atau sedikit sekali kontribusi divisi IT.

Insourcing adalah pembentukan sistem yang dibutuhkan dari satu divisi dimana sistem tersebut dibuat oleh divisi IT yang berada dalam satu pohon yang sama atau perusahaan yang sama. Misalkan divisi Finance membutuhkan sistem ICT untuk di aplikasikan di dalam divisinya, pihak divisi IT membuatkan sistem tersebut untuk divisi Finance. Tetapi masih dalam 1 perusahaan. Insourcing merupakan kebalikan daripada outsourcing. Menurut Mary Amiti dan Shang-Jin Wei berdasarkan researchnya di katakan bahwa untuk di negara Amerika dan negara-negara industri lainnya perusahaan yang memakai insourcing lebih banyak daripada perusahaan yang menggunakan tenaga outsourcing, karena walaupun tenaga outsourcing berdasarkan hasil survey banyak perusahaan yang menggunakannya dan angkanya terus meningkat tetap saja masih lebih rendah di bandingkan dengan insourcing.

KESIMPULAN

Untuk memenangkan persaingan di dalam persaingan bebas ini, penggunaan system informasi dalam menjalankan suatu bisnis sangat diperlukan. Untuk membangun system informasi dapat dilakukan dengan cara outsourcing. Outsourcing adalah pengalihan tugas kepada perusahaan lain.

Pemilihan vendor outsourcing harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan duatu perusahaan. Penggunaan Outsoucing IT bisa berdampak positif dan bisa berdampak negative. Selain melalui outsourcing pengembangan system informasi dapat dilakukan dengan insourcing atau selfsourcing.

DAFTAR PUSTAKA

Haried, P., & Ramamurthy, K. (2010). LESSONS LEARNED FROM OFFSHORE IT OUTSOURCING: A CLIENT AND VENDOR PERSPECTIVE. Journal of Information Technology Case & Application Research, 12(1), 12-38. Retrieved from Computers & Applied Sciences Complete database.

O’ Brien, J.A. 2005. Introduction to Information System, 12th ed. Mc Graw-Hill Companies, Inc

Sashikala, P. (2010). Competitive Advantage Using Information Systems Outsourcing: A Framework. IUP Journal of Systems Management, 8(1), 15-28. Retrieved from Computers & Applied Sciences Complete database.

http://www.ebizzasia.com/0108-2003/enterprise,0108,01.htm

http://www.setiabudi.name/archives/1141

http://www.lessonsoffailure.com/companies/outsourcing-cost-lie

Posted in Lain-Lain | 6 Comments

KONSEP FUNDAMENTAL DARI SISTEM INFORMASI

Sistem informasi adalah kumpulan antara sub-sub sistem yang saling berhubungan yang membentuk suatu komponen yang didalamnya mencakup input-proses-output yang berhubungan dengan pengolaan informasi (data yang telah dioleh sehingga lebih berguna bagi user).

Sistem informasi dari suatu perusahaan harus mampu memberikan informasi tentang berbagai perubahan lingkungan kepada para manajer, dan semakin dinamis lingkungan yang bersangkutan akan semakin kritis informasinya.Informasi haruslah memiliki karakteristik-karakteristik tertentu seperti :

  1. Relevan
  2. Timeliness
  3. Akurat dan Cost effective
  4. Reliable

Sistem informasi memiliki tiga peranan penting untuk sebuah perusahaan, yaitu :

  1. Mendukung proses operasi bisnis
  2. Mendukung pengambilan keputusan para pegawai dan manajernya
  3. Mendukung berbagai strategi untuk keunggulan kompetitif

Dalam suatu sistem informasi terjadi suatu proses atau aktifitas dimana data diolah menjadi suatu informasi. Saat terjadi pemrosesan tersebut terdapat beberapa aktifitas yang terlibat.  Sistem informasi akan melibatkan aktifitas input, pemrosesan, output, penyimpanan dan pengendalian.

  1. Input : Input bisa berupa kegiatan entry data seperti pencatatan dan perbaikan.
  2. Pemrosesan data menjadi informasi : Berbagai aktifitas tersebut mampu mengatur, menganalisa, dan memanipulasi data, hingga mengubahnya ke dalam informasi bagi pemakai akhir.
  3. Output : menghasilkan informasi dalam berbagai bentuk yang dikirim ke pemakai akhir.
  4. Penyimpanan : aktifitas sistem informasi tempat data dan informasi disimpan secara teratur untuk digunakan kemudian.
  5. Pengendalian : Sistem informasi harus menghasilkan umpan balik mengenai aktifitas input, pemrosesan, output, dan penyimpanan. Umpan balik ini harus diawasi dan dievaluasi untuk menetapkan apakah sistem dapat memenuhi standar kinerja yang telah ditetapkan.
Posted in Artikel | Comments Off on KONSEP FUNDAMENTAL DARI SISTEM INFORMASI

Hello world!

Welcome to Student.mb.ipb.ac.id Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Student.mb.ipb.ac.id Blogs

Posted in Lain-Lain | 1 Comment